MY TRIP

MY TRIP
kawah ciremai

Senin, 17 Februari 2014

Biasa yang Luar Biasa




Hari ini ku lalui tanpa rasa, tanpa makna, tanpa tahu arti hidup yang sebenarnya. Tawaku hanya topeng di balik perihnya hati yang tertusuk duri-duri tak tampak. Huh,, betapa sepinya hariku. Aku tak tahu mengapa aku ditakdirkan sebagai seorang yang ‘biasa’. Kehidupan yang biasa, keseharian biasa, kegiatan yang biasa, semua serba biasa.
“Esy, ayo makan! Semuanya nunggu kamu loh... ayo turun!!!”
Oh, ternyata mama membangunkan khayalanku. Aku pergi menghampiri mama yang telah siap menghidangkan sarapan  yang menurutku serba biasa.  Tidak jauh dari roti, atau bubur, atau nasi goreng. Biasa.
“Esy, hari ini kamu pulang lebih cepat kan? Nah, seperti biasanya, tiap hari jum’at kamu beli barang-barang kebutuhan kita. Nih daftar belanjanya!” (mama menyodorkan secarik kertas berisi daftar barang belanjaan). “Setelah itu, kamu bisa minta tolong ke pemuda yang biasa membawakan belanjaanmu. Nanti mama nyusul. Janjian di tempat biasa, ya!”
“Iya, ma.” Huh, biasa. Kata yang sangat aku benci.
Kakiku melangkah ke tempat yang biasa aku lewati. Aku kembali bertemu dengan seorang supir metromini yang biasa aku naiki. Di belakangku ada seorang bapak berpakaian rapi yang biasa menjadi kawanku di pagi yang sepi. Kapankah aku bisa menemui ketidakbiasaan?
“Neng, udah nyampe tuh. Sekolahannya SMAN 42 kan?” kondektur metromini mengingatkanku.
“Oh, iya pak. Makasih ya.” Saking biasanya, Ia tahu kebiasaanku.
Aku berlari menuju gerbang yang sudah hampir tutup. Pak security meniup peluit sebagai peringatan bagi anak-anak yang santai berjalan padahal bel sudah berbunyi. Aku berlari mengikuti pola arah tempatku bersemayam untuk belajar. Kelasku. Huh,, akhirnya sampai juga.
“Hai esy...” lagi-lagi Erick menggodaku dengan senyum nakalnya. “Liat PR dong... ayolah,,, udah bel nih...”
“Stststst, bapak killer udah masuk tuh...”
“Bodo, ah... eh, nanti loe mau belanja kan?”  huh, saking biasanya Ia tahu kebiasaanku. “Aku antar, ya” seperti biasanya lagi ia menawariku kebaikan buayanya. Aku ingin menolak. Hei!!! Tunggu!!! Aku bisa melakukan sesuatu di luar kebiasaanku. Aku.... Aku bisa menerimanya.
“Oh, boleh. Pulang sekolah ya.” Akhirnya sesuatu di luar kebiasaanku terjadi. Woooooowwww...
Bel berbunyi. Bu Erika, guru fisika menjelaskan dengan cara yang biasa. Seperti biasanya, Mayang pasti menjawab pertanyaan dari Bu Erika.
“Jadi, gaya gravitasi dipengaruhi oleh...”
            “Massa masing-masing benda, jarak antar benda, dan konstanta gravitasi umum, yaitu 6.673 x 10-11.”
Tuh, kan. Seperti biasa. Pelajaran Bu Erika pun berakhir. Pak Alif masuk. Bahasa Sunda. Masih seperti biasa. Disambung Bu Yona. Bahasa Inggris. Masih seperti biasa. Istirahat. Kantin penuh. Seperti biasa. Ouugghhrrttt... ini sangat biasa bagiku. Adakah hal luar biasa yang dapat ku lakukan?
Bel berbunyi. Aku pergi ke supermarket. Jalan raya masih tampak ramai seperti biasanya. Ada penjual gorengan di sekeliling jalan. Banyak juga penjual baso berjalan di sepanjang trotoar bersama gerobak basonya. Ya iyalah, masa gerobak martabak. Tapi, ada hal yang bukan kebiasaanku. Aku diantar Erick. Perubahan, walau sedikit.
“Hey Esy, belanjaannya banyak, ya?” tiba-tiba Erick memecah lamunanku. “Ya udah deh, entar aja. Kita bisa main-main dulu bentar. Tuh disana ada geng gue. Kita bisa adu balap disana. Motor gue baru keluar dari bengkel. Pasti mesinnya masih top nih. Bakal menang, deh.”
Tanpa meminta persetujuan dariku, ia melesatkan kuda besinya ke arah teman-temannya. Dengan kecepatan tinggi dia mengendarai motornya. Berkelok-kelok melawan arah kendaraan lain. Aku takut. Tapi, bukan masalah. Bukankah ini keinginanku? Aku ingin hal yang luar biasa. Sepertinya tak akan lama lagi.
“Hei, bro,,,, siapa nih? Wah, cewe baru?” teman Erick yang terlihat sangar menyapanya.
“Bukan, temen.”
“Yang bener? Cakep juga. Kalo bukan punya lo, buat gue aja.”
“Hush,,, enak aja.”
Aku benar-benar takut. Tempat apa ini? “Erick, gue bakalan aman, kan?”
“Tenang. Ada gue lo bakal 100% aman sama gue.”
            Erick dengan teman-temannya memulai balap dengan bendera merah sebagai tanda dimulainya pertandingan. Tampaknya Erick sudah tak sabar menampilkan keahliannya padaku. Aku turun dari motornya. Erick bersiap-siap.  Semua motor itu pun melesat. Menjauh hingga tak tampak. Wow, seeerrrrruuuu.... Ini satu kejadian luar biasa yang ku alami. Kuda besi itu melesat mengelilingi arena lingkaran yang ramai dengan suara mesin, tak diragukan lagi, ini hal...
Duaaaaarrrrr... Apa? Polisi?
“Hei, kalian semua” tidak... bagaimana ini? “Kalian ditangkap.” Aku... aku... harus bagaimana? “Hei, kamu ayo ikut!!!”
“Tidak!!! Erick, tolong kamu dimana? Pak, aku nggak salah apa-apa, pak. Aku nggak sengaja ada disini.”
“Diam!!! Nanti kamu jelaskan di kantor polisi.”
Aku ditangkap. Tak ada seorang pun yang ku kenal disini. Erick, dimana dia? Hilangkah? Tertangkapkah? Aku tak tahu.
           Aku sangat ketakutan. Getaran tubuh ini sungguh membuat keresahanku bertambah. Tak ada orang yang dapat menenangkan perasaanku.
          “Erick, loe dimana? Loe jahat, rick. Loe bilang nggak bakal kenapa-kenapa. Semuanya bakal aman. Keluarbiasaanku ini justru membawaku ke masalah yang tak pernah terpikir olehku.”
           Pak polisi memanggilku ke tempat duduk tempat introgasi. “Kamu, kemari!”
             Aku berjalan mendekati kursi panas itu. Langkahku masih bergetar seperti anak kecil yang baru belajar berjalan.
            “Jadi, mengapa kau ada disana?”
            “Pak, baru kali ini saya disana. Saya diajak paksa oleh teman saya, pak.”
            “Semua remaja yang tertangkap berkata seperti itu.”
            “Tapi, pak sungguh. Baru kali ini saya disana. Tempat apa itu saya tak tahu.”
            “Nama kamu Esy, kan? Esy, kamu masih muda. Harusnya kamu berusaha menjadi yang terbaik, karena kaulah yang menjadi penerus bangsa ini. Seperti apa kamu saat ini akan mencerminkan Bangsa Indonesia kelak. Kamu tahu? Dengan adanya kamu dan teman-temanmu disana, keamanan di daerah itu akan terganggu”
            “Pak, mohon... mengertilah...” tanpa terasa air hangat yang berasal dari mataku mengalir begitu deras membentuk sungai yang mengalir jatuh bagai air terjun di daguku. “Pak... maaf... sa... ya... ti....dak... se...nga...ja... berada... di... sa...na” sulit rasanya berbicara ketika menangis.
            “Sudah, hapus air matamu! Saya mengerti maksudmu. Tapi, kamu tertangkap basah berada di lokasi. Saya hanya menjalankan tugas. Kamu harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini.”
            Tak ada yang bisa aku lakukan. Aku menyesal. Seharusnya hal biasa itu aku syukuri. “Tak ada yang seindah hal biasa, hal yang aman, tentram, tertata, dan tak akan membuatku masuk penjara. Mama, aku takut. Mata salah seorang polisi seolah tak dapat berkedip selalu melotot ke arahku. Preman wanita yang ada di dalam sel berotot besar, berbadan raksasa, dan matanya berbicara seolah akulah mangsa empuknya. TIDAAAAKKK...
            “Esy,,,,”
            “Mama? Itu suara mama” Aku terkejut, mama disini?
            “Sayang, mama khawatir. Mama nunggu kamu di tempat biasa tapi kamu nggak muncul-muncul.” Hmmm.... biasa. Kata-kata yang rindu aku dengar.
            “Ma, maafin aku.”
            “Iya, kamu nggak apa-apa, kan? Untung ada Erick, dia yang nganterin mama kesini. Ya udah, bentar, ya. Mama urus dulu semuanya biar kamu bisa keluar. Mama udah denger semua ceritanya dari Erick. Kesalahan kamu nggak berat. Setelah ini kamu harus janji jadi anak yang baik. Ikutin rutinitas yang biasa kamu lakukan. Luar biasa itu hebat, tapi harus pada tempatnya. Sayang, kamu harus bisa mengambil pelajaran dari hari ini, ya. Dan Erick, jangan ajak Esy main yang nggak bener lagi, ya!” Mama pergi menemui polisi.
            “Esy, maafin gue ya. Gue salah. Gue janji bakalan nebus semua kesala...”
            “Rick, kamu nggak sepenuhnya salah. Aku juga salah. Tidak mensyukuri nikmat yang tuhan berikan padaku. Terimakasih, rick. Kamu mengajariku pentingnya arti kata BIASA. Sekali lagi makasih ya.” Ya, hal biasa yang aku alami akan menjadi hal yang luar biasa bila aku mensyukurinya. Tuhan mempunyai rahasia yang tidak kita ketahui. Mungkin hal yang kita anggap buruk adalah hal terbaik yang diberikan tuhan kepada kita. Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu itulah yang tebaik. Tuhan maha mengetahuinsegala sesuatunya. KeBIASAan adalah hal terbaik yang tuhan berikan kepadaku. Thank’s god. Biasa. Kata yang indah untuk dinikmati.
***
           “Esy.... bangun... mandi... nanti telat ke sekolah lihat tuh udah jam setengah enam.”
            Hm... kebiasaan mama yang seperti biasanya.... oh, rumahku yang biasa.

            Aku kembali menjalani hariku yang biasa. Masuk ke ruang tamu yang biasa. Makan makanan yang biasa disiapin Bibi. Sekolah dan duduk di bangku yang biasa aku duduki. Pulang seperti biasa.  Tidur di tempat tidurku yang biasa. Akhirnya balik lagi ke pagi seperti biasa. Hal-hal yang biasa itu akan menjadi luar biasa jika aku dapat mengendalikan kebiasaanku dan menjadi ahli di dalamnya.


(tulisan pertama yang membuat si penulis punya hobi baru..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar