Hari
ini ku lalui tanpa rasa, tanpa makna, tanpa tahu arti hidup yang sebenarnya.
Tawaku hanya topeng di balik perihnya hati yang tertusuk duri-duri tak tampak.
Huh,, betapa sepinya hariku. Aku tak tahu mengapa aku ditakdirkan sebagai
seorang yang ‘biasa’. Kehidupan yang biasa, keseharian biasa, kegiatan yang biasa,
semua serba biasa.
“Esy,
ayo makan! Semuanya nunggu kamu loh... ayo turun!!!”
Oh,
ternyata mama membangunkan khayalanku. Aku pergi menghampiri mama yang telah
siap menghidangkan sarapan yang
menurutku serba biasa. Tidak jauh dari
roti, atau bubur, atau nasi goreng. Biasa.
“Esy,
hari ini kamu pulang lebih cepat kan? Nah, seperti biasanya, tiap hari jum’at
kamu beli barang-barang kebutuhan kita. Nih daftar belanjanya!” (mama menyodorkan
secarik kertas berisi daftar barang belanjaan). “Setelah itu, kamu bisa minta
tolong ke pemuda yang biasa membawakan belanjaanmu. Nanti mama nyusul. Janjian
di tempat biasa, ya!”
“Iya,
ma.” Huh, biasa. Kata yang sangat aku benci.
Kakiku
melangkah ke tempat yang biasa aku lewati. Aku kembali bertemu dengan seorang
supir metromini yang biasa aku naiki. Di belakangku ada seorang bapak
berpakaian rapi yang biasa menjadi kawanku di pagi yang sepi. Kapankah aku bisa
menemui ketidakbiasaan?
“Neng,
udah nyampe tuh. Sekolahannya SMAN 42 kan?” kondektur metromini mengingatkanku.
“Oh,
iya pak. Makasih ya.” Saking biasanya, Ia tahu kebiasaanku.
Aku
berlari menuju gerbang yang sudah hampir tutup. Pak security meniup peluit sebagai peringatan bagi anak-anak yang
santai berjalan padahal bel sudah berbunyi. Aku berlari mengikuti pola arah
tempatku bersemayam untuk belajar. Kelasku. Huh,, akhirnya sampai juga.
“Hai
esy...” lagi-lagi Erick menggodaku dengan senyum nakalnya. “Liat PR dong...
ayolah,,, udah bel nih...”
“Stststst,
bapak killer udah masuk tuh...”
“Bodo,
ah... eh, nanti loe mau belanja kan?” huh, saking biasanya Ia tahu kebiasaanku. “Aku
antar, ya” seperti biasanya lagi ia menawariku kebaikan buayanya. Aku ingin
menolak. Hei!!! Tunggu!!! Aku bisa melakukan sesuatu di luar kebiasaanku.
Aku.... Aku bisa menerimanya.
“Oh,
boleh. Pulang sekolah ya.” Akhirnya sesuatu di luar kebiasaanku terjadi.
Woooooowwww...
Bel
berbunyi. Bu Erika, guru fisika menjelaskan dengan cara yang biasa. Seperti
biasanya, Mayang pasti menjawab pertanyaan dari Bu Erika.
“Jadi,
gaya gravitasi dipengaruhi oleh...”
“Massa
masing-masing benda, jarak antar benda, dan konstanta gravitasi umum, yaitu 6.673
x 10-11.”
Tuh,
kan. Seperti biasa. Pelajaran Bu Erika pun berakhir. Pak Alif masuk. Bahasa
Sunda. Masih seperti biasa. Disambung Bu Yona. Bahasa Inggris. Masih seperti biasa.
Istirahat. Kantin penuh. Seperti biasa. Ouugghhrrttt... ini sangat biasa
bagiku. Adakah hal luar biasa yang dapat ku lakukan?
Bel
berbunyi. Aku pergi ke supermarket. Jalan raya masih tampak ramai seperti
biasanya. Ada penjual gorengan di sekeliling jalan. Banyak juga penjual baso
berjalan di sepanjang trotoar bersama gerobak basonya. Ya iyalah, masa gerobak
martabak. Tapi, ada hal yang bukan kebiasaanku. Aku diantar Erick. Perubahan,
walau sedikit.
“Hey
Esy, belanjaannya banyak, ya?” tiba-tiba Erick memecah lamunanku. “Ya udah deh,
entar aja. Kita bisa main-main dulu bentar. Tuh disana ada geng gue. Kita bisa
adu balap disana. Motor gue baru keluar dari bengkel. Pasti mesinnya masih top nih. Bakal menang, deh.”
Tanpa
meminta persetujuan dariku, ia melesatkan kuda besinya ke arah teman-temannya.
Dengan kecepatan tinggi dia mengendarai motornya. Berkelok-kelok melawan arah
kendaraan lain. Aku takut. Tapi, bukan masalah. Bukankah ini keinginanku? Aku
ingin hal yang luar biasa. Sepertinya tak akan lama lagi.
“Hei,
bro,,,, siapa nih? Wah, cewe baru?” teman Erick yang terlihat sangar
menyapanya.
“Bukan,
temen.”
“Yang
bener? Cakep juga. Kalo bukan punya lo, buat gue aja.”
“Hush,,,
enak aja.”
Aku
benar-benar takut. Tempat apa ini? “Erick, gue bakalan aman, kan?”
“Tenang.
Ada gue lo bakal 100% aman sama gue.”
Erick dengan teman-temannya memulai
balap dengan bendera merah sebagai tanda dimulainya pertandingan. Tampaknya
Erick sudah tak sabar menampilkan keahliannya padaku. Aku turun dari motornya.
Erick bersiap-siap. Semua motor itu pun
melesat. Menjauh hingga tak tampak. Wow, seeerrrrruuuu.... Ini satu kejadian
luar biasa yang ku alami. Kuda besi itu melesat mengelilingi arena lingkaran
yang ramai dengan suara mesin, tak diragukan lagi, ini hal...
Duaaaaarrrrr...
Apa? Polisi?
“Hei,
kalian semua” tidak... bagaimana ini? “Kalian ditangkap.” Aku... aku... harus
bagaimana? “Hei, kamu ayo ikut!!!”
“Tidak!!!
Erick, tolong kamu dimana? Pak, aku nggak salah apa-apa, pak. Aku nggak sengaja
ada disini.”
“Diam!!!
Nanti kamu jelaskan di kantor polisi.”
Aku
ditangkap. Tak ada seorang pun yang ku kenal disini. Erick, dimana dia?
Hilangkah? Tertangkapkah? Aku tak tahu.
Aku sangat ketakutan. Getaran tubuh
ini sungguh membuat keresahanku bertambah. Tak ada orang yang dapat menenangkan
perasaanku.
“Erick, loe dimana? Loe jahat, rick.
Loe bilang nggak bakal kenapa-kenapa. Semuanya bakal aman. Keluarbiasaanku ini
justru membawaku ke masalah yang tak pernah terpikir olehku.”
Pak polisi memanggilku ke tempat
duduk tempat introgasi. “Kamu, kemari!”
Aku berjalan mendekati kursi panas
itu. Langkahku masih bergetar seperti anak kecil yang baru belajar berjalan.
“Jadi, mengapa kau ada disana?”
“Pak, baru kali ini saya disana.
Saya diajak paksa oleh teman saya, pak.”
“Semua remaja yang tertangkap berkata seperti itu.”
“Tapi, pak sungguh. Baru kali ini
saya disana. Tempat apa itu saya tak tahu.”
“Nama kamu Esy, kan? Esy, kamu
masih muda. Harusnya kamu berusaha menjadi yang terbaik, karena kaulah yang
menjadi penerus bangsa ini. Seperti apa kamu saat ini akan mencerminkan Bangsa
Indonesia kelak. Kamu tahu? Dengan adanya kamu dan teman-temanmu disana,
keamanan di daerah itu akan terganggu”
“Pak, mohon... mengertilah...”
tanpa terasa air hangat yang berasal dari mataku mengalir begitu deras
membentuk sungai yang mengalir jatuh bagai air terjun di daguku. “Pak...
maaf... sa... ya... ti....dak... se...nga...ja... berada... di... sa...na”
sulit rasanya berbicara ketika menangis.
“Sudah, hapus air matamu! Saya
mengerti maksudmu. Tapi, kamu tertangkap basah berada di lokasi. Saya hanya
menjalankan tugas. Kamu harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini.”
Tak ada yang bisa aku lakukan. Aku
menyesal. Seharusnya hal biasa itu aku syukuri. “Tak ada yang seindah hal
biasa, hal yang aman, tentram, tertata, dan tak akan membuatku masuk penjara.
Mama, aku takut. Mata salah seorang polisi seolah tak dapat berkedip selalu
melotot ke arahku. Preman wanita yang ada di dalam sel berotot besar, berbadan
raksasa, dan matanya berbicara seolah akulah mangsa empuknya. TIDAAAAKKK...
“Esy,,,,”
“Mama? Itu suara mama” Aku terkejut,
mama disini?
“Sayang, mama khawatir. Mama nunggu
kamu di tempat biasa tapi kamu nggak muncul-muncul.” Hmmm.... biasa. Kata-kata
yang rindu aku dengar.
“Ma, maafin aku.”
“Iya, kamu nggak apa-apa, kan?
Untung ada Erick, dia yang nganterin mama kesini. Ya udah, bentar, ya. Mama
urus dulu semuanya biar kamu bisa keluar. Mama udah denger semua ceritanya dari
Erick. Kesalahan kamu nggak berat. Setelah ini kamu harus janji jadi anak yang
baik. Ikutin rutinitas yang biasa kamu lakukan. Luar biasa itu hebat, tapi
harus pada tempatnya. Sayang, kamu harus bisa mengambil pelajaran dari hari
ini, ya. Dan Erick, jangan ajak Esy main yang nggak bener lagi, ya!” Mama pergi
menemui polisi.
“Esy, maafin gue ya. Gue salah. Gue
janji bakalan nebus semua kesala...”
“Rick, kamu nggak sepenuhnya salah.
Aku juga salah. Tidak mensyukuri nikmat yang tuhan berikan padaku. Terimakasih,
rick. Kamu mengajariku pentingnya arti kata BIASA. Sekali lagi makasih ya.” Ya,
hal biasa yang aku alami akan menjadi hal yang luar biasa bila aku
mensyukurinya. Tuhan mempunyai rahasia yang tidak kita ketahui. Mungkin hal
yang kita anggap buruk adalah hal terbaik yang diberikan tuhan kepada kita.
Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu itulah yang tebaik. Tuhan
maha mengetahuinsegala sesuatunya. KeBIASAan adalah hal terbaik yang tuhan
berikan kepadaku. Thank’s god. Biasa.
Kata yang indah untuk dinikmati.
***
“Esy.... bangun... mandi... nanti
telat ke sekolah lihat tuh udah jam setengah enam.”
Hm... kebiasaan mama yang seperti
biasanya.... oh, rumahku yang biasa.
Aku kembali menjalani hariku yang
biasa. Masuk ke ruang tamu yang biasa. Makan makanan yang biasa disiapin Bibi.
Sekolah dan duduk di bangku yang biasa aku duduki. Pulang seperti biasa. Tidur di tempat tidurku yang biasa. Akhirnya
balik lagi ke pagi seperti biasa. Hal-hal yang biasa itu akan menjadi luar
biasa jika aku dapat mengendalikan kebiasaanku dan menjadi ahli di dalamnya.
(tulisan pertama yang membuat si penulis punya hobi baru..)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar