MY TRIP

MY TRIP
kawah ciremai

Minggu, 02 Maret 2014

Pohon Takdir


Semua yang terjadi di dunia ini telah tertulis di suatu pohon. Pohon besar berisikan nama-nama manusia di bumi. Saat jiwa-jiwa telah berpisah dari tubuh mereka, gugurlah dedaunan yang bertengger di dahan-dahan. Yang tersisa hanya mereka yang hidup. Saat daun itu robek, masa pahit sedang dialami. Daun yang gugur akan digantikan daun baru yang lebih segar. Semua telah menjadi ketetapan. Ketika umur mereka habis, jatuhlah daun itu menyentuh tanah.ketika memang ditakdirkan untuk susah robeklah daun itu. Diterpa angin, hujan, badai atau apapun itu. Itulah peraturannya. Analogi bagi cerita kehidupan manusia. Takdir kehidupan.
Semilir angin behembus dari timur ke barat. Mengibarkan bendera kuning berukuran 45cm X 50cm. aroma kapur barus menyengat, beradu dengan bau busuk yang lazimnya memang dihasilkan oleh jasad yang telah tiada. Kelam. Kelabu. Tak tesirat sedikitpun senyum di wajah penghuni jalan Kemayoran Baru. Suasana mengharu biru menghiasi indahnya malam cerah yang beratapkan bintang-bintang, diterangi cahaya bulan. Mama telah tiada.
“Ma, jangan pegi! Mama belum lihat Hani jadi orang sukses, Ma. Kenapa Mama nggak nunggu sebentar lagi? Hani mau mama bangga, Melihat anaknya mencapai cita-cita. TAPI, KENAPA MAMA PERGI?”
Rintisan tangis mengisi malam yang ramai oleh orang berlalu lalang menyiapkan segala perlengkapan pemakaman esok hari. Di mataku tak ada lagi orang sekitar. Hanya ada kehampaan dan kekosongan. Hanya kata itu yang ku  kenal saat ini. Kata “sabar, ya nak..” seolah hanya memperperih sakit yang telah tercipta. Bagai  menyiram air jeruk nipis di tempat luka. Perih. Begitu menyakitkan.
“Mama jangan pergi!”
Kedatangan orang yang menghibur hatiku setelah kepergian Mama tak berhasil melenyapkan kesedihanku. Aku betindak seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen. Meronta-ronta. Manangis. Meronta-ronta. Menangis. Meronta lagi dan menangis lagi. Seakan membentuk suatu siklus tanpa henti.
“Tunggu, Ma! Hani belum bikin Mama bangga.”
Wajah lembut itu menggambarkan semua ketenangan. Mama. Memberikan semua kasih sayang. Menghilangkan amarah, sedih, gundah, dan keputusasaan. Tak ada satu orangpun yang dapat menandinginya. Mama adalah motivator, sahabat, koki, guru, dan konsultan yang sempurna. Begitu baik. Sayang, ada satu kata penyebab semua itu hilang dari genggamanku. Leukemia.
Mama adalah orang tua yang tangguh. Bahkan, dokterpun terkagum-kagum melihat perkiraannya salah. Ketika aku kelas dua SMP, Mama diduga hanya bertahan hidup satu tahun lagi. Tapi, faktanya? Mama berhasil melawan penyakitnya dengan gigih. Sanggup bertahan hingga aku menginjakkan kaki di kelas tiga SMA. Mengapa? Tak ada yang tahu. Kabahagiaan? Mungkin.
“Haruskah mama pergi? Hani belum membalas semua kebaikan Mama, kasih sayang Mama. Mama… oh… Mama…”
Aku tahu sulit rasanya membalas segala jasa-jasamu. Ma. Setidaknya, tidakkah kau berikan kesempatan pada anakmu yang begitu ingin membalasnya? Sedikit. Hanya sedikit saja.
“Mama…”
Gumaman teakhir keluar dari mulutku.
***
Aku menatap pagar besi tinggi yang diatasnya betuliskan “SMA NEGERI 1 KEMAYORAN BARU”. Kosong. Bagiku semuanya hampa. Walau dilewati berpuluh, bahkan mungkin beratus orang, tak tampak bagiku sumber kehidupan. Di dalamnya mapun di lingkungan sekitar sekolah. Canda, tawa, riang, semuanya telah hilang ntah pegi kemana. Sulit rasanya menemukan mereka yang telah hilang. Apa makna kehidupanku sebenarnya? Tak ada lagi yang bisa kupedulikan. Cukup tunggu apa yang telah Allah ncanakan untukku. Kapan daun betuliskan namaku jatuh? Kinipun rasanya tak apa.
Tak ada lagi yang bisa ku perbuat selain duduk di atas kusi dekat pohon mangga yang lebat daunnya. Tampak daun jatuh berguguran. Hanya itu yang selalu ku lakukan saan ini. Setiap hari. Bemenung di bawah pohon rindang.
“DOOOORRRRRR!!!!!!!”
“ Ih,,, apaan, sih?” oh, ternyata Nazhifa yang mengagetkanku. Sahabat terbaik yang pernah ku temui.
“Kenapa? Ayo, dong. Semangat. Hidupmu masih panjang. Udah seminggu kamu duduk di bawah pohon ini. Mamamu sudah menempuh dunia yang berbeda sejak sebulan lalu. Jangan terlalu diratapi. Semuanya itu memang sudah tak…”
“Takdir??? Ya, takdirlah yang mengatur semua. Takdir dari Allah. Manusia tak mempunyai wewenang tuk mengatur hidupnya. Apa gunanya hidup kalau memang akhir ceritanya sudah diketahui?”
“HANI!!!! Apa maksud kamu? Allah selalu mempunyai rencana yang hebat bagi hambanya.”
“Ya, memang. Sangat hebat, sampai-sampai Mama meninggal karena leukemia. Itukah rencana hebatNya?”
“Mengapa kamu berubah? Kau berani meremehkan Tuhanmu?”
“Bukan maksudku seperti itu, Nadzhifa. Aku hanya kecewa. Mengapa Allah mengambil Mama telalu cepat?”
“Mungkin itulah jalan terbaik.”
Tanpa terasa setetes air turun, berasal dari mataku. Deras melaju ke bawah terpengauhi gaya gravitasi. Oh… Mama. Kini aku pasrah. Toh, semuanya telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Betapapun usaha, jerih payah, dan kerja keras kita, semuanya berakhir di tangan Penguasa Semesta. Kini semuanya terserah.
***
“Hari ini kau tidak sekolah, nak?”
“Ayah? Aku….”
“Anak ayah yang cantik ini sudah tidak masuk sekolah tiga hari, kan?” Dari mana ayah tau? Aku tak penah melaporkannya kepada ayah. Ya iya, lah. Takut dimarahin. Mungkinkah Nadzhifa yang melaporkan semua tingkahku pada ayah? Ah, sudahlah toh ayah sudah tau. Dari ekspresinya, ayah tidak marah. Bukan persoalan penting darimana ayah mendapatkan info ctual tajam dan terpercaya.
“Maaf, yah.. Di sekolah rasanya begitu hampa. Bukankah semua cerita hidup kita sudah ditentukan? Jadi, untuk apa kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang itu-itu saja? Sama saja kan? Takdir dari Allah merupakan ketetapan.”
“Yakin? Darimana kamu tahu kalau semua itu benar? Takdir telah ditetapkan? Sepulang sekolah Ayah akan menjemputmu.”
“Pekejaan Ayah?”
Ayah hanya tersenyum meninggalkanku yang masih diam membatu di tempat tanpa pergerakan sedikitpun. Sepintas aku tampak sepeti batu yang terukir indah duduk di tempat tidurku. Ucapan ayah membuatku betul-betul melupakan kehidupan duniaku. Di pikiranku hanya tersimpan tanda Tanya dan mencai-cari jawaban atas pertanyaan itu. Tapi tetap saja. Nihil. Ayah, apa yang sebenarnya kau rencanakan?
***
KRRRRRRIIIIINNNGGGGGG…
Bel tanda pelajaan telah usai berbunyi. Segera para murid keluar berhamburan mengosongkan ruangan yang telah berjam-jam mereka tempati. Berhamburan seperti asap yang terus meluas ke sekelilingnya. Semakin besar luas yang dihasilkan jika pusatnya adalah pintu keluar ruangan kelas.
Aku menengok ke kanan. Ke kiri. Mataku bermain kelayapan mencari objek utama. Rasa ingin tahu yang besar ternyata menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Seolah terserang oleh virus yang sangat kuat dan membuat tubuhku tertular rasa ingin tahu akan apa yang ada dalam pikian Ayah tadi pagi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit telah belalu. Belum ada tanda-tanda ayah akan muncul. Barulah pada menit ke sepuluh muncul mobil kijang hitam melaju mendekatiku. Mobil kantor Ayah. Akhinya datang  juga.
“AYAAAAAHHHH!!!” Panggilan kerasku sepertinya behasil memusatkan pehatian semua orang padaku. Termasuk ayah.
“Mau kemana kita, Yah?”
“Ayo naik!!!”  Segera aku percepat langkahku agar sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat. Aku tak tahu kemana aku akan pergi bersama ayah. Apapun tempatnya yang penting tidak mempeburuk keadaanku.
Perjalanan terasa begitu lama. Apakah ini karena rasa ingin tahuku? Masih melewati tempat-tempat yang ku kenal. Melewati pasar tempat Mama biasa berbelanja,  restoran yang biasa menjadi langganan kami sekeluarga, tempat rekreasi favorit kami, masih tempat yang tak asing. Ah… mungkin ayah hanya ingin menghiburku. Ke tempat rekreasikah? Atau trade center? Mall?
Satu jam berlalu. Entah mengapa rasanya sepeti lebih dari tiga jam. Pertanyaanku masih belum tejawab. Kemana? Ayah masih diam membisu seribu bahasa. Kali ini lurus lalu belok kanan. Aku yakin. Dari tadi tebakanku meramal arah selalu benar. Tapi masih saja belum tertebak tempat tujuan yang Ayah maksud.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan, oops… berbelok ke kiri. Bukan lurus? Tempat apa ini? Jalanan yang semula mulus tanpa lubang tiba-tiba berubah menjadi jalan penuh batu dan berlubang. Seperti gempa lokal, begoyang ke kiri. Begoyang ke kanan. Sulit rasanya menyeimbangkan tubuh agar tetap lurus ke posisi semula.
Setelah cukup jauh dari jalan raya, ayah berhenti dan mematikan mesin mobil. Inikah tempatnya? Di sekelilingku tedapat sampah-sampah berserakan seperti sebuah bukit. Begitu tinggi. Banyak orang mengoyak-oyak bukit sampah itu. Tak pandang usia, gender, status, semuanya melakukan aktivitas yang sama. Tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, semuanya memikul wadah besar yang dianyam dari bambu di punggungnya. Memilih-milih entah apa yang diambil.
“Mau turun?” Papa akhirnya mengucapkan beberapa kata.
“Ini dimana, pa?”
“Kamu mencari makna takdir yang sebenarnya, kan?  Disini tempatnya. Kau lihat? Apa yang kau fikikan tentang mereka? Mereka memelukan perjuangan keras untuk mendapatkan sesuap nasi. Entah besok makan atau tidak. Kau beruntung. Makanan sudah tersedia. Mau apa tinggal minta. Mereka? Untuk memenuhi kebutuhan pimerpun sambil mengeluakan semua yang mereka punya. Kau lihat anak kecil itu?”Papa menunjuk seorang anak kecil bepakaian lusuh yang sudah tidak terlihat lagi wananya. Mungkin kalau masih baru berwarna coklat muda, atau mungkin putih? Entahlah. Sudah tak jelas ”Anak kecil itu sungguh luar biasa. Ialah yang membawa papa ke tempat ini. Ayahnya memilih untuk menjadi pejudi, mabuk-mabukan, sering  keluar malam entah apa yang dilakukannya. Pulang ke rumah sudah menjelang shubuh. Ibunya memilih hidupnya sebagai buruh cuci yang penghasilannya tak menentu. Bisa dibilang, sang anaklah tulang punggung keluarga. Setiap hari mencari barang-barang bekas disini. Meski begitu ia tetap gigih sekolah mencari ilmu. Mau jadi tentara, katanya. Ia memilih menjadi orang bemanfaat bagi lingkungan, keluarga, dan selalu menatap masa depan. Jadi tentara.”
“Dalam satu keluarga, tiga anak manusia, hidup di tempat yang sama, namun mempunyai pilihan hidup masing-masing. Hidupmu bukan karangan Allah SWT yang kau sebut takdir, melainkan hidupmu nanti adalah apa yang kau pilih sekarang. Takdir? Ya, memang ada. Tapi bukan untuk cerita kehidupan. Takdir yang sudah pasti tak dapat terelakkan adalah kematian dan jodoh. Kematian tak dapat ditunda atau dimajukan. Sudah tersurat di alam sana. Yang kau analogikan sebagai pohon? Ya, itulah takdir. Tapi hanya untuk kematian. Ceritamu di dunia? Kaulah yang membuatnya sendiri.”

Tediam. Tak ada satu katapun yang bisa ku ucap. Di tempat segala sesuatu di buang disini. Di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Tempat yang dipandang sebelah mata oleh banyak orang, adalah tempat aku menemukan hidayahMu. Teimakasih Ya Allah. Kau bukakan mataku untuk melihat jalan yang benar. Kini aku mempunyai beberapa misi penting. Mendo’akan Mama yang telah mendahului, beusaha membahagiakan Papa, dan menggoreskan ceitaku semasa aku hidup dengan sebuah guatan kebahagiaan.

*repost blog lama*....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar