Semua yang terjadi di dunia ini telah tertulis di
suatu pohon. Pohon besar berisikan nama-nama manusia di bumi. Saat jiwa-jiwa
telah berpisah dari tubuh mereka, gugurlah dedaunan yang bertengger di
dahan-dahan. Yang tersisa hanya mereka yang hidup. Saat daun itu robek, masa
pahit sedang dialami. Daun yang gugur akan digantikan daun baru yang lebih
segar. Semua telah menjadi ketetapan. Ketika umur mereka habis, jatuhlah daun
itu menyentuh tanah.ketika memang ditakdirkan untuk susah robeklah daun itu.
Diterpa angin, hujan, badai atau apapun itu. Itulah peraturannya. Analogi bagi
cerita kehidupan manusia. Takdir kehidupan.
Semilir angin behembus dari timur ke barat. Mengibarkan
bendera kuning berukuran 45cm X 50cm. aroma kapur barus menyengat, beradu
dengan bau busuk yang lazimnya memang dihasilkan oleh jasad yang telah tiada.
Kelam. Kelabu. Tak tesirat sedikitpun senyum di wajah penghuni jalan Kemayoran
Baru. Suasana mengharu biru menghiasi indahnya malam cerah yang beratapkan
bintang-bintang, diterangi cahaya bulan. Mama telah tiada.
“Ma, jangan pegi! Mama belum lihat Hani jadi orang sukses, Ma.
Kenapa Mama nggak nunggu sebentar lagi? Hani
mau mama bangga, Melihat anaknya mencapai cita-cita. TAPI,
KENAPA MAMA PERGI?”
Rintisan tangis mengisi malam yang ramai oleh orang
berlalu lalang menyiapkan segala perlengkapan pemakaman esok hari. Di mataku
tak ada lagi orang sekitar. Hanya ada kehampaan dan kekosongan. Hanya kata itu
yang ku kenal saat ini. Kata “sabar, ya
nak..” seolah hanya memperperih sakit yang telah tercipta. Bagai menyiram air jeruk nipis di tempat luka. Perih.
Begitu menyakitkan.
“Mama jangan pergi!”
Kedatangan orang yang menghibur hatiku
setelah kepergian Mama tak berhasil melenyapkan kesedihanku. Aku betindak
seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen. Meronta-ronta. Manangis.
Meronta-ronta. Menangis. Meronta lagi dan menangis lagi. Seakan membentuk suatu
siklus tanpa henti.
“Tunggu, Ma! Hani
belum bikin Mama bangga.”
Wajah lembut itu menggambarkan semua ketenangan. Mama.
Memberikan semua kasih sayang. Menghilangkan amarah, sedih, gundah, dan
keputusasaan. Tak ada satu orangpun yang dapat menandinginya. Mama adalah
motivator, sahabat, koki, guru, dan konsultan yang sempurna. Begitu baik.
Sayang, ada satu kata penyebab semua itu hilang dari genggamanku. Leukemia.
Mama adalah orang tua yang tangguh. Bahkan,
dokterpun terkagum-kagum melihat perkiraannya salah. Ketika aku kelas dua SMP,
Mama diduga hanya bertahan hidup satu tahun lagi. Tapi, faktanya? Mama berhasil
melawan penyakitnya dengan gigih. Sanggup bertahan hingga aku menginjakkan kaki
di kelas tiga SMA. Mengapa? Tak ada yang tahu. Kabahagiaan? Mungkin.
“Haruskah mama pergi? Hani belum membalas semua
kebaikan Mama, kasih sayang Mama. Mama… oh… Mama…”
Aku tahu sulit rasanya membalas segala jasa-jasamu.
Ma. Setidaknya, tidakkah kau berikan kesempatan pada anakmu yang begitu ingin
membalasnya? Sedikit. Hanya sedikit saja.
“Mama…”
Gumaman teakhir keluar dari mulutku.
***
Aku menatap pagar besi tinggi yang diatasnya
betuliskan “SMA NEGERI 1 KEMAYORAN BARU”. Kosong. Bagiku semuanya hampa. Walau
dilewati berpuluh, bahkan mungkin beratus orang, tak tampak bagiku sumber kehidupan.
Di dalamnya mapun di lingkungan sekitar sekolah. Canda, tawa, riang, semuanya
telah hilang ntah pegi kemana. Sulit rasanya menemukan mereka yang telah
hilang. Apa makna kehidupanku sebenarnya? Tak ada lagi yang bisa kupedulikan.
Cukup tunggu apa yang telah Allah ncanakan untukku. Kapan daun betuliskan
namaku jatuh? Kinipun rasanya tak apa.
Tak ada lagi yang bisa ku perbuat selain duduk di
atas kusi dekat pohon mangga yang lebat daunnya. Tampak daun jatuh berguguran.
Hanya itu yang selalu ku lakukan saan ini. Setiap hari. Bemenung di bawah pohon
rindang.
“DOOOORRRRRR!!!!!!!”
“ Ih,,, apaan, sih?” oh, ternyata Nazhifa yang
mengagetkanku. Sahabat terbaik yang pernah ku temui.
“Kenapa? Ayo, dong. Semangat. Hidupmu masih panjang.
Udah seminggu kamu duduk di bawah pohon ini. Mamamu sudah menempuh dunia yang
berbeda sejak sebulan lalu. Jangan terlalu diratapi. Semuanya itu memang sudah
tak…”
“Takdir??? Ya, takdirlah yang mengatur semua. Takdir
dari Allah. Manusia tak mempunyai wewenang tuk mengatur hidupnya. Apa gunanya
hidup kalau memang akhir ceritanya sudah diketahui?”
“HANI!!!!
Apa maksud kamu? Allah selalu mempunyai rencana yang hebat bagi hambanya.”
“Ya, memang. Sangat hebat, sampai-sampai Mama
meninggal karena leukemia. Itukah rencana hebatNya?”
“Mengapa kamu berubah? Kau berani meremehkan
Tuhanmu?”
“Bukan maksudku seperti itu, Nadzhifa. Aku hanya
kecewa. Mengapa Allah mengambil Mama telalu cepat?”
“Mungkin itulah jalan terbaik.”
Tanpa terasa setetes
air turun, berasal dari mataku. Deras melaju ke bawah terpengauhi gaya gravitasi.
Oh… Mama. Kini aku pasrah. Toh, semuanya telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa.
Betapapun usaha, jerih payah, dan kerja keras kita, semuanya berakhir di tangan
Penguasa Semesta. Kini semuanya terserah.
***
“Hari ini kau tidak
sekolah, nak?”
“Ayah? Aku….”
“Anak ayah yang cantik ini sudah tidak masuk sekolah
tiga hari, kan?” Dari mana ayah tau? Aku tak penah melaporkannya kepada ayah.
Ya iya, lah. Takut dimarahin. Mungkinkah Nadzhifa yang melaporkan semua
tingkahku pada ayah? Ah, sudahlah toh ayah sudah tau. Dari ekspresinya, ayah
tidak marah. Bukan persoalan penting darimana ayah mendapatkan info ctual tajam
dan terpercaya.
“Maaf, yah.. Di sekolah rasanya begitu hampa.
Bukankah semua cerita hidup kita sudah ditentukan? Jadi, untuk apa kita
berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang itu-itu saja? Sama
saja kan? Takdir dari Allah merupakan ketetapan.”
“Yakin? Darimana kamu tahu kalau semua itu benar?
Takdir telah ditetapkan? Sepulang sekolah Ayah akan menjemputmu.”
“Pekejaan Ayah?”
Ayah hanya tersenyum meninggalkanku yang masih diam
membatu di tempat tanpa pergerakan sedikitpun. Sepintas aku tampak sepeti batu
yang terukir indah duduk di tempat tidurku. Ucapan ayah membuatku betul-betul
melupakan kehidupan duniaku. Di pikiranku hanya tersimpan tanda Tanya dan
mencai-cari jawaban atas pertanyaan itu. Tapi tetap saja. Nihil. Ayah, apa yang
sebenarnya kau rencanakan?
***
KRRRRRRIIIIINNNGGGGGG…
Bel tanda pelajaan telah usai berbunyi. Segera para
murid keluar berhamburan mengosongkan ruangan yang telah berjam-jam mereka
tempati. Berhamburan seperti asap yang terus meluas ke sekelilingnya. Semakin
besar luas yang dihasilkan jika pusatnya adalah pintu keluar ruangan kelas.
Aku menengok ke kanan. Ke kiri. Mataku bermain kelayapan
mencari objek utama. Rasa ingin tahu yang besar ternyata menjalar ke seluruh
bagian tubuhku. Seolah terserang oleh virus yang sangat kuat dan membuat
tubuhku tertular rasa ingin tahu akan apa yang ada dalam pikian Ayah tadi pagi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit telah belalu.
Belum ada tanda-tanda ayah akan muncul. Barulah pada menit ke sepuluh muncul
mobil kijang hitam melaju mendekatiku. Mobil kantor Ayah. Akhinya datang juga.
“AYAAAAAHHHH!!!” Panggilan kerasku sepertinya
behasil memusatkan pehatian semua orang padaku. Termasuk ayah.
“Mau kemana kita, Yah?”
“Ayo naik!!!”
Segera aku percepat langkahku agar sampai ke tempat tujuan dengan lebih
cepat. Aku tak tahu kemana aku akan pergi bersama ayah. Apapun tempatnya yang
penting tidak mempeburuk keadaanku.
Perjalanan terasa begitu lama. Apakah ini karena
rasa ingin tahuku? Masih melewati tempat-tempat yang ku kenal. Melewati pasar
tempat Mama biasa berbelanja, restoran
yang biasa menjadi langganan kami sekeluarga, tempat rekreasi favorit kami,
masih tempat yang tak asing. Ah… mungkin ayah hanya ingin menghiburku. Ke
tempat rekreasikah? Atau trade center? Mall?
Satu jam berlalu. Entah mengapa rasanya sepeti lebih
dari tiga jam. Pertanyaanku masih belum tejawab. Kemana? Ayah masih diam
membisu seribu bahasa. Kali ini lurus lalu belok kanan. Aku yakin. Dari tadi
tebakanku meramal arah selalu benar. Tapi masih saja belum tertebak tempat
tujuan yang Ayah maksud.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan, oops…
berbelok ke kiri. Bukan lurus? Tempat apa ini? Jalanan yang semula mulus tanpa
lubang tiba-tiba berubah menjadi jalan penuh batu dan berlubang. Seperti gempa
lokal, begoyang ke kiri. Begoyang ke kanan. Sulit rasanya menyeimbangkan tubuh
agar tetap lurus ke posisi semula.
Setelah cukup jauh dari jalan raya, ayah berhenti
dan mematikan mesin mobil. Inikah tempatnya? Di sekelilingku tedapat
sampah-sampah berserakan seperti sebuah bukit. Begitu tinggi. Banyak orang
mengoyak-oyak bukit sampah itu. Tak pandang usia, gender, status, semuanya
melakukan aktivitas yang sama. Tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan,
semuanya memikul wadah besar yang dianyam dari bambu di punggungnya.
Memilih-milih entah apa yang diambil.
“Mau turun?” Papa akhirnya mengucapkan beberapa
kata.
“Ini dimana, pa?”
“Kamu mencari makna takdir yang sebenarnya,
kan? Disini tempatnya. Kau lihat? Apa
yang kau fikikan tentang mereka? Mereka memelukan perjuangan keras untuk
mendapatkan sesuap nasi. Entah besok makan atau tidak. Kau beruntung. Makanan
sudah tersedia. Mau apa tinggal minta. Mereka? Untuk memenuhi kebutuhan
pimerpun sambil mengeluakan semua yang mereka punya. Kau lihat anak kecil
itu?”Papa menunjuk seorang anak kecil bepakaian lusuh yang sudah tidak terlihat
lagi wananya. Mungkin kalau masih baru berwarna coklat muda, atau mungkin
putih? Entahlah. Sudah tak jelas ”Anak kecil itu sungguh luar biasa. Ialah yang
membawa papa ke tempat ini. Ayahnya memilih untuk menjadi pejudi, mabuk-mabukan,
sering keluar malam entah apa yang
dilakukannya. Pulang ke rumah sudah menjelang shubuh. Ibunya memilih hidupnya
sebagai buruh cuci yang penghasilannya tak menentu. Bisa dibilang, sang anaklah
tulang punggung keluarga. Setiap hari mencari barang-barang bekas disini. Meski
begitu ia tetap gigih sekolah mencari ilmu. Mau jadi tentara, katanya. Ia
memilih menjadi orang bemanfaat bagi lingkungan, keluarga, dan selalu menatap
masa depan. Jadi tentara.”
“Dalam satu keluarga, tiga anak manusia, hidup di
tempat yang sama, namun mempunyai pilihan hidup masing-masing. Hidupmu bukan
karangan Allah SWT yang kau sebut takdir, melainkan hidupmu nanti adalah apa
yang kau pilih sekarang. Takdir? Ya, memang ada. Tapi bukan untuk cerita
kehidupan. Takdir yang sudah pasti tak dapat terelakkan adalah kematian dan
jodoh. Kematian tak dapat ditunda atau dimajukan. Sudah tersurat di alam sana.
Yang kau analogikan sebagai pohon? Ya, itulah takdir. Tapi hanya untuk
kematian. Ceritamu di dunia? Kaulah yang membuatnya sendiri.”
Tediam. Tak ada satu katapun yang bisa ku ucap. Di
tempat segala sesuatu di buang disini. Di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Tempat
yang dipandang sebelah mata oleh banyak orang, adalah tempat aku menemukan
hidayahMu. Teimakasih Ya Allah. Kau bukakan mataku untuk melihat jalan yang benar. Kini aku
mempunyai beberapa misi penting.
Mendo’akan Mama yang telah mendahului, beusaha membahagiakan Papa, dan menggoreskan ceitaku
semasa aku hidup dengan sebuah guatan kebahagiaan.
*repost blog lama*....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar